Wednesday, March 18, 2015

"Sammy", Mascot Taman Safari Indonesia II bantu bersihkan sungai di Surabaya

Hari Minggu, memang menjadi hari yang sangat cocok untuk melakukan kerja bakti dan Taman Safari Indonesia II beruntung mendapat kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam program “Resik – Resik Kali Suroboyo Rek” . Di hari minggu pagi yang cerah, tepatnya tanggal 15 Maret 2015 tim Taman Safari Indonesia II berangkat ke Surabaya dengan misi membersihkan sungai di Surabaya. Acara yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Hotel & Media ini juga didatangi oleh Ibu Risma selaku Walikota Surabaya. 
Partisipasi Taman Safari Indonesia II "Resik-resik Kali Suroboyo Rek"
Acara ini dimulai di sungai depan Novotel Surabaya jam 06.00 pagi sampai jam 09.00 di Monumen Kapal Selam Surabaya. Acara ini berlangsung dengan baik dan menarik karena banyak sekali aktifitas – aktifitas yang tidak kita temui setiap harinya. “Acara ini sangat bagus sekali, mengingat Taman Safari Indonesia II juga bisa ikut membantu membersihkan lingkungan Jawa Timur dan memaksimalkan fungsi konservasi lingkungan”, tutur Bung Idham selaku HoD Sales & Marketing Taman Safari Indonesia II yang saat itu ikut turun di sungai.
Persiapan penyebaran benih ikan 
Acara ini di tutup dengan games – games seru yang diadakan di Monumen Kapal Selam dan penyebaran benih ikan di Sungai oleh perwakilan Hotel & Media serta beberapa perusahaan yang mendukung acara tersebut. Ada satu hal yang menarik dan mencuri perhatian, “Sammy” salah satu dari 5 mascott kebanggan Taman Safari Indonesia juga ikut turun di perahu karet untuk menyebarkan benih ikan di sungai Kalimas Surabaya.
"Sammy", maskot TSI II bantu bersihkan sungai
Dengan adanya acara ini, diharapkan menjadi satu pendorong untuk masyrakat lainnya agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan guna untuk kepentingan bersama


R.A – Marcomm Taman Safari Indonesia II

Wednesday, March 4, 2015

Teknologi Ramah Lingkungan dari kotoran Satwa Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan Jawa Timur

Seiring berkembangnya zaman, permintaan akan gas alam ternyata semakin berkembang pula. Salah satu pemakaian gas alam yang cukup banyak adalah di Indonesia. Adanya alih energi dari minyak tanah ke gas, tentunya membuat mergin permintaan gas bumi semakin banyak pula. Disisi lain, harga minyak dunia dalam hal ini gas bumi, setiap tahunnya semakin meningkat. Tentunya adanya kenaikan ini akan menambah beban yang lebih berat lagi bagi  masyarakat kita. Adanya permintaan yang berlebih tentunya berpengaruh pula akan ketersediaannya di alam. Semakin lama semakin menipis, sehingga diperlukan suatu terobosan mengenai pencarian suatu energi alternatif yang terbaharukan sebagai pengganti bahan bakar fosil tersebut (dalam hal ini gas bumi).
Untuk mewujudkan misi Taman Safari Indonesia II Prigen (TSI II) untuk mengembangkan kegiatan konservasi melalui Riset, TSI II mencoba untuk membuat suatu terobosan mengenai pemanfaatan kotoran satwa sebagai energi alternatif terbaharukan. Dari berbagai satwa yang ada di Taman Safari Indonesia II, kita pilih sapi bali sebagai bahan yang akan jadikan riset. Hal ini dikarenakan Taman Safari Indonesia II dikenal memiliki sebuah “Research Center” untuk pemuliabiakan sapi bali dan hingga saat ini pemanfaatan kotoran sapi bali ini hanya sebatas pupuk kompos. Sehingga kita berfikiran untuk mengembangkannya menjadi “biogas” yang kita kombinasikan dengan urine gajah sebagai bahan dasarnya.
Pembuatan biogas di TSI II berpotensi baik karena selain sebagai lembaga konservasi ex-situ, TSI II berperan penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, bagaimana cara mengolah limbah dengan baik dan dapat diubah menjadi sumber energi alternatif, yaitu biogas. Di Indonesia, kotoran hewan yang biasa digunakan untuk biogas adalah kotoran sapi. Biogas umumnya digunakan untuk memasak sebagai pengganti dari LPG, minyak tanah, kayu bakar dan lampu penerangan. Sedangkan sisa pembuangan biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang.
TSI II memiliki 16 ekor sapi bali yang diletakkan di lokasi pemuliabiakan sapi bali dan banteng, dimana 11 ekor diantaranya adalah sapi dewasa. Satu ekor sapi bali dewasa dapat mengeluarkan feses (kotoran) kurang lebih 7 kg setiap harinya, sehingga jumlah feses dalam satu hari untuk sapi bali dewasa saja mencapai 77 kg. Hal tersebut berarti, dalam satu bulan jumlah feses yang diproduksi oleh sapi bali dewasa mencapai 2.310 kg. Melihat potensi tersebut, TSI II berusaha membuat reaktor biogas yang berfungsi untuk bahan bakar alternatif pengganti LPG yang dimanfaatkan untuk dapur ransum satwa.

Proses Pembuatan Reaktor
Pembuatan reaktor biogas dimulai dengan menggambar desain lokasi dan menentukan tempat yang akan dibangun reaktor biogas. Setelah diperoleh lokasi yang tepat kemudian diberi tanda (patok) di tanah, barulah proses pembangunan dimulai sebagai berikut :
1. Penggalian Tanah 
Penggalian tanah dilakukan sesuai ukuran yang diinginkan, di TSI II membuat reaktor biogas berukuran 10 m³. Penggalian tanah melingkar dilakukan dengan diameter 3 m dan kedalaman 2,5 m.
2. Pemasangan Pondasi dan Corpada Dasar Konstruksi
Pemasangan pondasi pada lantai dasar dilakukan dengan menggunakan besi batang dan dicor dengan ukuran 20 cm.
3. Pemasangan Bata dan Memplester Melingkar pada Dinding Reaktor
Pemasangan bata pada dinding reactor dilakukan melingkar dengan ketinggian 95 cm. Di tengah diameter lubang diletakkan pipa berukuran 0,5 inci tepat pada posisi tegak, selanjutnya memplester dinding reactor dengan ukuran 2-5 cm.
4. Pengurukan Tanah
Pengurukan tanah dilakukan ketika dinding reactor sudah diplester dan kering. Pengurukan dibentuk menyerupai kubah untuk memudahkan proses pengecoran.
5. Pembuatan Menhol
Menhol ini difungsikan sebagai jalan keluar kotoran dari digester  (Tempat mengolah kotoran melalui proses difermentasi oleh bakteri untuk menghasilkan gas) menuju outlet.
6. Proses Pengecoran Kubah
Proses pengecoran kubah dilakukan dengan memasang besi terlebih dahulu sebagai penguat, dimulai dari atas menhol dengan pengecoran balok setebal 25 cm. kemudian pengecoran seluruh kubah dengan ketebalan ± 15-20 cm.
7. Pembuatan Turret (Menara kecil)
Pembuatan menara kecil dilakukan apabila kubah sudah benar-benar kering dan dilapisi semen, pembuatan ini bertujuan untuk melapisi pipa gas utama yang masuk ke dalam kubah agar tidak terjadi kebocoran.Turret dibentuk persegi dengan ukuran tinggi 40 cm dan lebar 30 cm.
8. Pembuatan Outlet (Ruang pemisah)
Sebelum membuat outlet, tanah yang ada di dalam digester harus dikeluarkan dahulu melalui menhol. Pembuatan outlet dilakukan di belakang menhol.
9. Pembuatan Penutup Outlet
Pembuatan penutup outlet dapat dilakukan di tanah yang rata sesuai ukuran. Pembuatan dilakukan dengan pemberian besi sebagai penguat, kemudian dicor. Penutup outlet berjumlah 3 buah, tujuannya untuk memudahkan ketika membuka.
10. Pembuatan Inlet
Pembuatan inlet difungsikan untuk mencampur kotoran dengan air, sehingga menghasilkan campuran dengan kandungan padat 8% - 10% sebelum dimasukkan ke dalam digester.
11. Pembuatan Slurry (Pembuangan)
Pembuatan slurry ini dilakukan untuk menyalurkan kotoran yang sudah siap untuk dijadikan pupuk organic dari biogas.
12.  Pengecatan
Proses pengecatan dilakukan setelah proses pembuatan reactor selesai dikerjakan. Bagian yang dicat adalah kubah di dalam digester. Cat harus dicampur dengan semen supaya lebih kuat. Pengecatan ini difungsikan agar tidak ada kebocoran dalam digester.
Setelah reaktor biogas selesai di buat, reaktor akan diisi dengan kotoran sapi bali sejumlah ±1 ton pada pengisian pertama dan dicampur dengan air. Selanjutnya digester akan terus diisi dengan kotoran yang dicampur dengan air agar bakteri tetap bisa memproduksi gas yang optimal.
Gambar 1. Sketsa Reaktor Biogas
Keterangan :
1. Inlet / Mixer         5. Mainhole
2. Pipa Inlet          6. Outlet
3. Digester                 7. Slurry
4. Penampung Gas 8. Pipa Gas Utama

Hasil
Dari riset yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa pembuatan reaktor biogas di kandang pemuliabiakan sapi bali ternyata dapat dijadaikan sebagai pengganti LGP di dapur ransum satwa (Gambar 2.). Dengan menggunakan kompor yang berasal dari biogas akan lebih aman, karena terhindar dari resiko meledaknya tabung gas LPG. Gas yang dihasilkan dari biogas lebih banyak, sehingga dapat dipergunakan yang lebih banyak pula.

Gambar 2. Pemanfaatan Biogas untuk memasak di dapur Ramsum Satwa
Gas yang dihasilkan ini memiliki warna yang lebih biru. Warna api yang biru pada kompor biogas menunjukkan bahwa api yang dihasilkan cukup panas, sehingga membuat masakan  lebih cepat matang. Warna nyala api ini hampir sama dengan warna api pada kompor gas LPG, sehingga jika kita ingin memasarkannya akan lebih mudah, karena kebanyakan pengguna selalu menginginkan nyala api pada kompor yang berwarna biru. Gambar nyala api dari biogas dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3. Nyala Api pada kompor yang menggunakan Biogas
Dengan adanya biogas, Dapur ransum satwa bisa menghemat ± 3 tabung LPG berukuran 12 kg atau sekitar Rp. 405.000,- per bulannya. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan Biogas di dapur ransum satwa cukup efektif dan bermanfaat. Sealain sebagai 
Reaktor biogas yang berhasil dibuat dapat dijadikan sebagai percontohan bagi masyarakat sekitar untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas. Selain itu kotoran yang keluar dari lubang slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Apabila dimanfaatkan dengan baik pupuk tersebut bisa menjadi nilai jual yang tinggi bagi TSI II. 
Melalui Riset ini terbukti bahwa kotoran sapi bali jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik akan menjadi suatu bahan yang sangat berguna, yakni sebagai biogas. Dalam pembuatannya biogas berbahan dasar kotoran sapi bali dan dicampur dengan urine gajah. Maksud dari pencampuran dengan urine gajah ini bertujuan agar proses reaksi lebih cepat dan lebih sempurna. Karena seperti yang kita ketahui bahwa urine gajah mengandung amonia yang cukup tinggi. Dari hasil riset ini menunjukkan bahwa dengan adanya pencampuran urine gajah dapat mempercepat proses reaksi, yang semestinya api baru bisa menyala pada hari ke 5 – 7, ternyata dengan pencampuran ini dalam waktu 3 hari kompor sudah bisa menyala.
Dari sisi ekonomi, biogas ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Karena dari hasil yang ada menunjukkan bahwa, penghematan dengan menggunakan biogas ini cukup tinggi. Dapur ransum satwa bisa menghemat Rp. 405.000,- / bulan. Dari sisi ekonomi inilah yang dapat kita tonjolkan. Dengan modal awal sekitar Rp. 18.000.000,- dan bahan baku yang gratis (karena kita sudah punya). Ini hanya baru dapur ransum satwa saja, bukan tidak mungkin jika kita salurkan dan gunakan ke lokasi yang lain maka penghematan akan lebih besar lagi. Hal ini didukung pula dengan massa penggunaan biogas yang bisa dipergunakan sekitar 5- 10 tahun.
Dari sisi edukatif, adanya biogas ini tentunya akan lebih meningkatkan mutu dari TSI II itu sendiri yang merupakan wahana wisata berbasis edukasi. Dengan adanya biogas ini, diharapkan pengunjung (dalam hal ini yang berhubungan dengan edukasi) akan lebih tertarik untuk datang dan mempelajari tentang biogas yang ada di TSI II

Eko - Education SPV

Saturday, February 28, 2015

Wah ternyata "Swimming With Dolphin" banyak banget manfaatnya lho...

Bagaimana Terapi lumba – lumba bekerja? (dapatkah berenang dengan lumba – lumba hidung botol bisa menyembuhkan autis, depresi, stroke dan kanker?

Seorang hipnoterapis bernama Judith Simon Prager pernah mempublikasikan sebuah artikel mengenai “Dolphine Assisted Therapy : Something Magical in the water” (Huffington Post, 2010). Dimana didalam artikel tersebut dijabarkan mengenai adanya sisi magis dalam treatment yang dilakukan didalam air (berenang dengan lumba – lumba) yang sangat sulit di jelaskan dari sisi science nya. 
Swimming With Dolphin at Taman Safari Indonesia II
Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Hal Herzog, Ph. D (2011) menjelaskan bahwa baru – baru ini ilmuan amerika menemukan bahwa terapi berenang dengan lumba – lumba ini dapat menyembuhkan autis, depresi, stroke dan kanker. Memang harus diakui, berenang dengan lumba – lumba memberikan efek psicological yang cukup baik. Peneliti ini memiliki suatu hipotesa bahwa dengan terapi yang rutin diberikan akan memberikan dampak psikologis yang baik, dimana dampak psikologis ini akan mengurangi rasa sakit (baik depresi, autis dsb), sehingga secara mental jika berenang dengan lumba – lumba akan membuat fikiran menjadi lebih fresh (karena merasa senang). Disinilah letak sisi psikologisnya, dengan fikiran yang merasa senang akan mensugesti bahwa penyakit yang mereka derita akan menjadi berkurang (BBC News, 2005).

Klaim..

Dipicu oleh beberapa laporan dan hasil treatment yang didapat, dapat kita akui bahwa terapi lumba – lumba adalah magnet bagi orang tua serta orang yang putus asa akan keadaan hidup mereka. Mereka akan melakukan apa pun dan membayar berapapun biaya yang akan ditimbulkan untuk menyembuhkan / membantu mereka dalam penyembuhan gangguan psikologis seperti autisme/ Down Sindrome, Depresi berat serta pemulihan psikologis bagi penderita stroke dan kanker. Mereka berbondong – bondong untuk mendatangi dan membuktikan sendiri ke seratus lebih dolphine therapist di dunia (Florida, Bali, Inggris, Rusia, Bahama, Australia dan Dubai).

Dimana semuanya berharap melalui beberapa kekuatan yang tidak diketahui akan menyembuhkan mereka. Klaim yang dibuat tentang kekuatan kuratif lumba – lumba diatas (berinteraksi dengan lumba – lumba) dikatakan dan didapatkan hasil bahwa berenang dengan lumba – lumba dapat meringankan Down sindrome, AIDS, Stroke, Kanker epilepsi, autisme, tuli dan kesulitan belajar / menerima pelajaran (bagi anak – anak). Didalam penyembuhan dengan metode ini, mekanismenya adalah adanya pengaruh bioenergi dari lumba – lumba itu sendiri. Adanya “klik” frekuensi tinggi serta dengusan yang dihasilkan oleh lumba – lumba (Dalam rangka fungsinya untuk berkomunikasi dengan yang lainnya) akan menyebabkan perubahan frekuensi pada otak manusia, bahkan dalam penelitian Nathanson (1989) menyebutkan bahwa lumba – lumba memiliki kemampuan untuk langsung mengubah gelombang otak manusia.
Swimming With Dolphin at Taman Safari Indonesia II
Sebagian besar masyarakat mengklaim bahwa lumba – lumba adalah pekerja medis yang bekerja dengan menggunakan ilmu magis, namun itu semua hanyalah anggapan anekdot. Sebenarnya adanya efek dorongan / sugesti lah yang menyebabkan semuanya itu. Penjelasan yang paling masuk akal akan adanya fenomena penyembuhan ini adalah adanya “medan gaya bioenergi”. Dimana energi ini berupa sugesti bahwa jika anda hidup bersama mahluk paling menakjubkan di bumi ini, akan mendorong fikiran anda untuk mendapatkan harapan hidup yang lebih tinggi (BBC News, 2005).

Bukti Ilmiah


Bagaimana kita membuktikannya secara ilmiah? Dari suatu penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh ultrasound pada lumba – lumba terhadap perkembangan otak pada anak – anak yang memiliki cacat fisik dan mental. Penelitian ini dilakukan oleh sekelompok peneliti jerman yang dilakukan di laut Florida (Jonnas et Feline, 1991).


Eko - SPV Education Team of TSI II

Burung Macau, Ular Python & Anak Harimau Datangi SMP Negeri 1 Beji Pasuruan

Dalam rangka menutup bulan February 2015 bulan kasih sayang, Taman Safari Indonesia II juga menunjukan kasih sayangnya dengan mengunjungi dan memberi edukasi kepada pelajar – pelajar sekolah. Animal Goes To School kedua kalinya diadakan di sekolah SMP Negeri 1 Beji Pasuruan yang diadakan pada hari Sabtu 28 Maret 2015. Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00 di halaman sekolah SMP Negeri 1 Beji Pasuruan, satwa yang pertama dihadirkan adalah 2 ekor burung Macau dengan dipandu oleh tim Edukasi Taman Safari Indonesia II kemudian dilanjutkan Keeper Talk.
Edukasi dari Education Team of TSI II
 Para siswa sangat antusias terhadap edukasi yang diberikan oleh tim edukasi dari Taman Safari Indonesia II. Taman Safari Indonesia II sangat apresiasi sekali kepada SMP Negeri 1 Beji Pasuruan, dikarenakan memberikan fasilitas yang siap untuk menjaga keamanan dan kenyamanan satwa yang kami bawa untuk edukasi.
Merchandise untuk siswa SMP Negeri 1 Beji, Pasuruan
Setelah edukasi dari 2 burung Macau, Keeper Taman Safari Indonesia II melanjutkan memberi edukasi tentang Ular Python yang dipimpin oleh kakak Roni. Sebagai edukasi terakhir, Taman Safari Indonesia II hadirkan 2 anak harimau sumatera Alin & Alexa.
Roni, Professional Keeper of TSI II
Untuk menjamin kenyamanan satwa, Keeper – Keeper juga senantiasa menjaga satwa dan menunjukan bagaimana kedektan Keeper dengan satwa.
Para siswa dan guru sangat antusias dan senang dengan kegiatan ini dan mereka menginginkan tahun depan Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan bisa datang lagi ke sekolah mereka dengan membawa satwa lain seperti orang utan, onta atau yang lain.
Alin & Alexa, 2 Baby Tigers of TSI II
Animal Goes To School diharapkan mampu memberikan pendidikan dan penyuluhan mengenai satwa khususnya untuk siswa – siswa sekolah, tidak hanya sekolah di sekitar Taman Safari Indonesia II, namun juga kebeberapa sekolah di Jawa Timur.
Melalui program Animal Goes To School yang diselenggarakan oleh Taman Safari Indonesia II, diharapkan seluruh lapisan masyarakat mulai mencintai lingkungan khususnya satwa – satwa langka Indonesia dan ikut menjaga kelestarian alam bersama. Semua ini bisa dimulai melalui proses pembelajaran di sekolah mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan konservasi serta dampak negatif yang akan timbul akibat tindak tanduk manusia yang salah terhadap lingkungan. 

Thursday, February 12, 2015

Taman Safari Indonesia II, ajarkan siswa SMA Negeri 18 Surabaya cintai satwa

Animal Goes To School adalah program dari Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan Jawa Timur yang dimana sebuah edukasi tentang satwa dikemas secara menarik oleh tim Taman Safari Indonesia II. Sebagai salah satu lembaga konservasi satwa di luar habitatnya (ex-situ), Taman Safari Indonesia II (TSI II) Prigen, Pasuruan Jawa Timur, selalu berusaha untuk memberikan kontribusi yang besar dalam kegiatan konservasi dan edukasi yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, TSI II selalu memperbaharui metode edukasi dan sosialisasi agar senantiasa efektif dan tepat sasaran. Berbagai lapisan masyarakat terutama masyarakat yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, diundang dan terus menerus diberi asupan mengenai pentingnya konservasi bagi lingkungan hidup dan manusia sendiri.
Di tahun 2015 ini, Animal Goes To School diadakan pertama dengan mendatangi sekolah SMA Negeri 18 Surabaya yang diadakan pada hari Kamis, 12 February 2015. Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00 di halaman sekolah SMAN 18 surabaya, satwa yang pertama dihadirkan adalah 2 ekor burung Macau dengan dipandu oleh tim Edukasi Taman Safari Indonesia II kemudian dilanjutkan Keeper Talk. Para siswa sangat antusias terhadap edukasi yang diberikan oleh tim edukasi dari Taman Safari Indonesia II.  
Keeper Talk Burung Macau oleh Viktor
Sebagai penampilan penutup, Taman Safari Indonesia II hadirkan 2 ekor anak harimau sumatera Alin & Alexa. Untuk menjamin kenyamanan satwa, Keeper – Keeper juga senantiasa menjaga satwa dan menunjukan bagaimana kedektan Keeper dengan satwa.
Rasid menunjukan kedekatan Keeper dengan Satwa
Para siswa dan guru sangat antusias dan senang dengan kegiatan ini dan mereka menginginkan tahun depan Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan bisa datang lagi ke sekolah mereka dengan membawa satwa lain seperti orang utan, onta atau yang lain.
Animal Goes To School diharapkan mampu memberikan pendidikan dan penyuluhan mengenai satwa khususnya untuk siswa – siswa sekolah, tidak hanya sekolah di sekitar Taman Safari Indonesia II, namun juga kebeberapa sekolah di Jawa Timur.
Melalui program Animal Goes To School yang diselenggarakan oleh Taman Safari Indonesia II, diharapkan seluruh lapisan masyarakat mulai mencintai lingkungan khususnya satwa – satwa langka Indonesia dan ikut menjaga kelestarian alam bersama. Semua ini bisa dimulai melalui proses pembelajaran di sekolah mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan konservasi serta dampak negatif yang akan timbul akibat tindak tanduk manusia yang salah terhadap lingkungan.


Friday, February 6, 2015

Gajah Taman Safari Indonesia II Bantu Hijaukan Jawa Timur

Gunma Safari Park Jepang melalui kerjasama "Sister Park" dengan Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur memberikan bantuan untuk gerakan penghijauan di area Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur.Taman Safari Indonesia II Prigen – Jawa Timur yang berkedudukan sebagai Lembaga Konservasi Ex-Situ.  Untuk yang kesekian kalinya telah membantu pemerintah guna mendukung pelestarian hutan dan lahan Indonesia. 

Penyerahan Cinderamata oleh TSI II & Kementrian Kehutanan kepada Gunma Safari Park


Tahun 2015 ini, gerakan penghijauan diselenggarkan pada Sabtu, 07 Febuari 2015 dengan bibit pohon yang akan ditanam adalah Pohon Mahoni (Swietenia Macrophylla), Trembesi (Albizia Saman) dan Pohon Wuni (Antidesma Bunius). Kegiatan ini dihadiri oleh Presiden Direktur Gunma Safari Park Mr. Kunihiko Takahashi, Direkrur KKH Bambang Dahono Adjie, Kepala BKSDA Jawa Timur Suyanto Sukandar, Administratur Perhutani Kuntum Suryandari, Frans Manansang dan Tony Sumampau selaku direktur Taman Safari Indonesia.
Pemberian sumbangan tersebut secara simbolis ditandai dengan penyerahan pohon dari Presiden Direktur Gunma Safari Park, Kunihiko Takahasi, kepada Direktur Taman Safari Indonesia, Frans Manansang, di area Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Pada acara serah terima donasi tersebut, seekor gajah betina Taman Safari Indonesia II bernama Diana (28 th) memberikan bibit tanaman trembesi (Sammania Samman) secara simbolis kepada Presiden Direktur Gunma Safari Park, Mr. Kunihiko. Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah siswa siswi SD yang berada disekitar area Taman Safari Indonesia II prigen – Jawa Timur.
Penyerahan bibit pohon Trembesi oleh Gajah TSI II kepada Gunma Safari Park
“Penanaman pohon ditujukan untuk melestarikan lingkungan dan mempromosikan keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di Jawa Timur”, tutur Frans Manansang, Direktur TSI.
Setiap tahunnya, Taman Safari Indonesia melakukan penanaman pohon setiap tahunnya, dari mulai Taman Nasional (TN)  Way Kambas-Lampung, TN. Gunung Pangrango, TN. Gunung Halimun-Salak, Taman Wisata Gunung Pancar Bogor,TN. Bali Barat, Kawasan Tanjung Benoa-Bali, Nusa Penida-Klungkung, Kawasan konservasi Masigit Kareumbi-Bandung.
Gerakan Penghijauan di TSI II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur
Diharapkan dengan adanya kerjasama “Sister Park” antara Taman Safari Indonesia & Gunma Safari Park ini, bisa meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia.


Tuesday, February 3, 2015

Rayakan Ulang Tahun ke- 17, Taman Safari Indonesia II menggelar malam spesial di "Journey To The Temple Of Teror"

Dengan semangat “The Spirit of Seventeen”, HUT Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan ke 17 diperingati secara serentak oleh seluruh karyawan dan jajaran manajemen. Dalam 17 tahun ini, Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan  terus berkomitmen untuk menjadi lembaga konservasi satwa terbaik se – Asi dan menjadi tempat edukasi tentang satwa  sekaligus menjadi tempat liburan keluarga favorit di Jawa Timur.
Kemeriahan HUT TSI II
Pemotongan Tumpeng & Kue oleh Bapak Michael Sumampau 
Taman Safari Indonesia II menyelenggarakan kegiatan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-17 pada hari Selasa tanggal 4 February 2015 yang bertempat di panggung “Journey To Temple of Teror” Taman SafariIndonesia II dengan mengangkat tema “Celebrating Our Past, Inspiring For Better Future”. Rangkaian acara kegiatan dimulai dengan opening acts dari Colossal Dancer dilanjutkan dengan acara syukuran dan beberapa acara lainnya seperti live music, Taman Safari Indonesia II award 2015 untuk Employee of The Year yang dibacakan oleh Cak & Yuk Kab. Pasuruan, National Choir, Fire Dance & ratusan doorprize. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Michael Sumampau selaku General Manager di taman Safari Indonesia II, yang juga ikut serta memberikan sambutan – sambutan yang sangat membakar semangat karyawan dalam memajukan Taman Safari Indonesia II di usia yang ke 17.



Fire Dance Performance
Pembagian Doorprize untuk Karyawan
Peringatan Hari Ulang Tahun Taman Safari Indonesia II yang menembus angka 17 ini diharapkan dapat menjadi lembaran baru dan semangat baru untuk menjadi lembaga konservasi satwa terbaik dan tempat liburan keluarga di Jawa Timur dengan performa yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya, dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan, dan pada akhirnya tetap berada dalam jalur untuk menjadi Lembaga Konservasi Satwa kelas dunia. “Memasuki usia 17 tahun, semoga kami bisa terus menjadi lembaga konservasi satwa terbaik se – Asia, menjadi tempat edukasi mengenai satwa, dan menjadi tempat wisata berlibur favorit di Jawa Timur seperti motto Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan, Conservation, Education, &Fun” tutur Mr. Belly, selaku ketua panitia HUT Taman Safari Indonesia II.